Jangan Pergi…
Suatu sore disebuah rumah yang mungil hanya terdapat sebuah tv dan
lemari pendingin, suasana yang begitu tenang dengan hembusan angin yang kencang
dari sebelah timur rumah tersebut. Nampak hari itu begitu sepi dengan seperti
biasanya ketika adat muslim sedang menunaikan ibadah puasa dibulan suci
ramadhan. Seketika terbesit dalam pikiran ramon mengingatkan
seorang peri kecil, berhiasan hidung sedikit mancung dan juga senyum lebarnya yang membuat berwarna setiap harinya, ia adalah Shinta. Ramon ingat kala ia masih saling menegur sapa, saling menyapa kabar, dan pula saling berbagi senyum dan tawa yang bahagia. Namun kini semua sudah menjadi pasir yang datang lalu hilang terbawa ombak besar yang mengoyak semua isi suatu pantai.
seorang peri kecil, berhiasan hidung sedikit mancung dan juga senyum lebarnya yang membuat berwarna setiap harinya, ia adalah Shinta. Ramon ingat kala ia masih saling menegur sapa, saling menyapa kabar, dan pula saling berbagi senyum dan tawa yang bahagia. Namun kini semua sudah menjadi pasir yang datang lalu hilang terbawa ombak besar yang mengoyak semua isi suatu pantai.
Ramon memang kenal
dengan Shinta ketika seorang kerabat mengenalkannya disaat ia sedang duduk
depan aula gedung kampusnya. Sang kerabat menceritakan tentang semua yang ia
ketahui mengenai shinta, dari mulai karakter, asal daerah, bahkan sampai hal-hal
usilnya hehe. Lantas darimana sang kerabat tau tentang shinta?? Bukankah shinta
itu seorang perempuan yang jangankan tempat bermain, tempat kampusnya juga
berbeda. Memang benar apa yang dikatakan kerabat Ramon yang satu ini, ia memang
tau tentang shinta karna ia adalah pacar dari kerabatnya shinta. Terjadilah Ramon
meminta salah satu kontak Shinta yang tertera di handpone sang kerabat.
Perkenalan..
Singkat Cerita.. Cukup
lama ramon saling melempar chat dengan shinta, sedikit demi sedikit ia dekatkan
perkenalan itu dengan shinta. Ternyata benar apa yang dikatakan oleh sang
kerabat ramon yang kala itu menceritakan tentang Shinta, Dia benar-benar
perempuan yang luar biasa dari mulai kedewasaannya, baiknya, perhatianya bahkan
sampai keibu-ibuanya pun sangat luar biasa. Ramon senang bisa berkenal dengan
dia, rasanya ia benar-benar kagum dengan perempuan yang satu ini, bahkan
dikatakan dalam hati ramon ia akan sangat bahagia bila nanti akhirnya ia
dipersatukan dengan perempuan itu. Namun ramon tak ingin jauh-jauh berpikir
seperti itu karna ia masih bertekad ingin sukseskan dirinya dan ia juga masih
sadar Shinta pun masih memiliki cita-cita yang panjang. Yang terpenting bagi
ramon, ia dan shinta bisa sama-sama saling canda tawa hingga sukses dikemudian
hari.
Beberapa Bulan Kemudian…
Dunia memang
saling berputar, bertukar, bahkan saling berganti. Siang berputar malam, malam
kembali berputar menjadi siang, bahkan siangpun kembali berganti malam. Suatu
ketika entah adaapa yang terjadi, bahkan mengapa semua ini terjadi. Ketika Ramon
seperti biasanya saling memberi perhatian, memberi pujiaan,saling canda tawa
namun kali ini hampir 70% semua itu berbalik. Ntah apa yang terjadi hari itu,
Ketika biasanya saling memebri perhatian berubah menjadi saling cuek, ketika
saling memberi pujian berubah menjadi berbeda, bahkan kettika itu shinta
mengatakan diluar dugaan apa yang dipikirkan Ramon kala itu, ia meminta ramon untuk
“tidak menyiksa dirinya sediri dengan rasa rindunya terhadap shinta”. Ramon tak
mengerti apa yang dikatakan shinta saat itu, bahkan ramon pun bingung apa yang
harus ia katakan kembali ke shinta. Karna shinta tiba-tiba berbicara seperti
itu tanpa alasan jelas yang ia katakan ke ramon.
Ramon mencoba tenang, mencoba menanyakan apa yang sebenarnya terjadi, mengapa ia mengatakan seperti itu. Namun kembali shinta terdiam tak menjelaskan apa-apa padanya, hanya senyum dan jawaban pavorit seorang perempuan yang biasa keluar dari mulutnya. “Gak papa Ramon”, begitu kira-kira bunyi yang keluar dari suara shinta. Hingga saat ini ia tak lagi seperti dulu yang saling memberi perhatian, memberi pujian, dan saling senyum canda tawa kebahagiaan. Namun harus bagaimana pun ramon menerima semua itu, walaupun ia sebenarnya sedikit kecewa dengan semua ini. Ramon berharap shinta hanya pergi untuk kembali. J
Ramon mencoba tenang, mencoba menanyakan apa yang sebenarnya terjadi, mengapa ia mengatakan seperti itu. Namun kembali shinta terdiam tak menjelaskan apa-apa padanya, hanya senyum dan jawaban pavorit seorang perempuan yang biasa keluar dari mulutnya. “Gak papa Ramon”, begitu kira-kira bunyi yang keluar dari suara shinta. Hingga saat ini ia tak lagi seperti dulu yang saling memberi perhatian, memberi pujian, dan saling senyum canda tawa kebahagiaan. Namun harus bagaimana pun ramon menerima semua itu, walaupun ia sebenarnya sedikit kecewa dengan semua ini. Ramon berharap shinta hanya pergi untuk kembali. J
Selesai…


Waduh ini dawal bulan ramadhan yaa bulan penuh hikmah, diakhir sebulan kemudian kan idul fitri mf2an eh malah ramon n shinta berantem toh, hehe
BalasHapus