Sekali 27, Selamanya 27



Ilham Ramdani, 27 Januari 2017

Hujan turun cukup lebat ketika motor yang saya tumpangi menyusuri jalan bergelombangnya jalan perbatasan subang - indramayu. Waktu yang menunjukan pukul 1 siang. Bunyi sesekali suara gemuruh yang terus berkeliaran atas telinga, menyajikan suasana kota kecil penuh cerita.
            Tak lama berselang, motor yang saya kendaraipun berjalan menepi dan akhirnya berhenti disebuah parkiran. “Alhamdulilah sudah sampai ham,” ujar si teman sambil mematikan mesin kendaraan. “Kumpulnya dimana yaa bro?” tanya saya sambil sambil melihat-lihat kearah kanan-kiri.
            Siang yang cukup gelap ditambah hujan yang cukup lebat membuat pandangan saya semakin terbatasi ketika itu. Yang terlihat hanya sebuah warung warga, lapangan yang besar, dan rumah warga yang mengelilingi sisi lapangan.
            “Itu dek rumah tempat berkumpulnya,” ujar tukang warung sambil menunjukan rumah yang terdapat gerbang putih. “Oh itu gerbangnya Pak. Terus yang lainnya sebelah mana?” tanya saya lagi.
            “pada didalem dek, masuk dulu aja nanti juga ada. Karena masih diluar saja makanya nggak keliatan,” tukang warung tadi coba menjelaskan. “Oh begitu,” tanpa berlama-lama setelah bertanya saya mendekati rumah tersebut. Sambil menjinjing tas olahraga, saya berlari menuju gerbang yang ditunjuk oleh si tukang warung tadi.
            Sesampainya di gerbang, saya bertemu dengan seorang laki-laki paruh baya berperawakan sedang yang di kemudian hari saya kenal dengan nama kang adi (sodara coach ipin), yang ketika itu tengah duduk minum kopi sambil menikmati sebatang rokok.
            Melihat saya yang tengah kebingungan, kang adi pun menyapa, “Cari siapa dek?”
“anak-anak (pemain lain) pada dimana ya kang? Katanya kumpul sini?” jawab saya. “Oh anak-anak pada didalem dek, Jalan saja ke sono (menunjuk ke pintu masuk), terus belok kanan. Ikutin aja, ntar di sebelah kanan ada ruangan,” kang adi tersebut menjelaskan. Setelah mengucapkan terima kasih, saya pun mengikuti petunjuk tadi.
            Tak lama kemudian sampailah saya di sebuah ruangan. Seorang laki-laki berusia sekitar 35 tahunan berperawakan kecil, yang biasa saya panggil om ipin (coach tim) menyambut saya dengan ramah. “Wahh ilham, baru datang? Kenapa gak langsung simpan disini motornya? Ujar om ipin.
            “Nggak tahu Om,” jawab saya sambil menjulurkan tangan. Dan kami pun bersalaman. “Iya Om saya disuruh Om diran (menejer SSB GAMA) untuk datang ke sini ketemu om ipin (coach tim ssb gama),” ujar saya melanjutkan.
“Semua pemain kumpul dulu diruangan itu, kecuali pemain yang jauh disana tapi mereka juga gabung bersama distadion,” om ipin menjelaskan dengan panjang dan lebar.
Setelah membuka pintu ia pun mempersilahkan saya. Sebelum pergi om tersebut berkata, “Kalo ada apa-apa bilang saja ke kang adi, orangnya ada diluar yang tadi lagi duduk santai”.
“Baik Om. Terima kasih,” jawab saya.
Baru beberapa langkah berjalan, Om ipin membalikkan badan dan kembali berkata, “Awas ilham, berangkat bentar lagi jam 2 ya. Nanti akan ada kang adi yang akan mengabsen mau pakai nomor punggung berapanya dan membagikan baju seragamnya.
“Siap Om,” jawab saya sambil memberi jempol.
Saya pun segera memasuki ruangan. Hal pertama yang saya lakukan adalah merebahkan badan sambil menengadah. Tatapan saya jauh menerawang menembus plafon kamar yang berwarna putih.
“kayak ngimpi ini. Dulu cuma kepikiran untuk bisa main di SSB Kecamatan sendiri. Eh sekarang malah nyangkut di SSB GAMA Indramyu. SSB yang isinya pemain pengalaman semua” ujar saya dalam hati.
“Eh tapi aku kan pemain top juga ya, wong walau pun baru 18 tahun aku kan anggota tim senior hehehehe. Apa yang harus ditakutkan?” lanjut saya sambil nyengir dan tertawa dalam hati.
Dapat ditebak, siang itu saya habiskan dengan rasa bahagia. Pertama, karena jujur saya agak takut bermain tournament yang besar di tempat yang baru. Kedua, tidak sabar rasanya menunggu pertandingan datang menjelang, agar segera dapat bermain untuk pertama kali ditournament yang besar dengan menggunakan nomor punggung 27.
Rasa tidak percaya masih menggelayuti benak saya. Ingin rasanya segera memulai petualangan bersama tim ssb asal indramayu ini. Penasaran juga dengan apa yang saya bisa capai bersama ssb gama. Tak terasa waktu sudah menunjukan pukul 2, kang adipun mengabsen seluruh pemain untuk mendata.
Setelah beberpa pemain dipanggil, kini giliran saya yang dipanggil “Nomor Berapa Ilham,? Ujar kang adi sambil menunjukan data nomor yang masih kosong. “Tetap 27 kang.” Bilang saya ke kang adi. Akhirnya setelah semua pemain dibsen dan kami pun bertolak ke kota indrmayu untuk memainkan pertandingan piala Djarum pertama melawan ssb lintang emas asal jatibarang kota indrmayu.
Apa yang saya sampaikan di atas, adalah cerita saat pertama kali menginjakkan kaki di pertandingan besar, bersama ssb gama dengan menggunakan nomor punggung kebanggaan, 27. Sebuah cerita yang tidak akan pernah saya lupakan. Hari yang menandai kiprah saya bersama tim kebanggaan masyarakat sukra Indramayu dan tentunya itu juga adalah hari dimana saya menggunakan momor pungung 27 dipertandingan resmi.
Saya tidak akan bercerita mengenai mengapa saya memakai nomor 27, tidak pula menjelaskan apa yang terjadi setelah itu, bagaimana petualangan saya, apa saja pencapaian saya bersama SSB GaMa. Karena ehmmm bakal panjang lagi ceritanya hehehe.
Sejak menggunakan nomor punggung 27, saya langsung merasa nyaman bermain menggunakan momor punggung ini. Meskipun sebenarnya nomoer punggung 27 bukan berawal dari pertama kali saya di ssb gama, tapi 27 adalah nomor dimana komitmen dua insan yang dipertemukan oleh tuhan pada waktu itu.
 Seiring berjalannya waktu kenyamanan tadi berubah menjadi kecintaan dan rasa memiliki. Hingga akhirnya nomor ini tidak lagi menjadi sebuah nomor yang menempel dipungung saya, namun lebih kepada kenangan cerita indah dengan segala kelebihan dan kekurangannya.
Tak terasa usia saya sudah menginjak 21 tahun. Rasanya baru seminggu yang lalu, anak muda 18 tahun itu tidak bisa tidur karena tidak percaya dapat bermain di pertandingan besar bersama dengan nomor punggung 27. Oh waktu begitu cepat berlalu.
Cepat atau lambat saya akan berpisah dengan tim SSB GaMa. Suatu saat nanti bisa jadi saya juga akan melepas nomor 27. Namun dimana pun saya berada, angka 27 tidak akan pernah dapat dihapus dari diri, maupun perjalanan hidup saya. Tidak ada yang dapat menghilangkan bongkahan kisah kasih antara saya dan nomor 27 ini.
Hari ini, 27 Januari 2017, kau seorang insan yang genap berusia 22 tahun. Usia yang tidak lagi anak-anak. Selamat hari ulang tahun 27-ku, Happy BirthDay Purzy, Panjang umur, tetap sehat, tetap semangat, dan sukses selalu. Tetaplah menjadi kecintaan, kebanggaan, bagi keluargamu dan keluarga kecilmu.
Ragaku mungkin akan berpetualang kemana pun hembusan angin akan membawaku. Namun cerita indah dan kenangan manis akan selalu ada dan merasuk ke dalam jiwaku, sampai kapan pun, iya sampai kapan pun.
Karena :
Sekali 27, Selamanya 27…

Komentar

Postingan Populer