Setetes tinta kabar pur27

Panas terik matahari yang memancarkan bumi di hari menjelang ramadhan tiba. Di temani sebotol minuman es teh manis dan layar lebar yang terus memberikan kabar seputar dunia nasional. Jarum jam yang menempel di lingkaran yang bergambar logo real Madrid, daun-daun yang berjatuhan di depan teras rumah. Siang itu datang sepucuk surat yang entah datang dari siapa, tentang apa, dan untuk siapa. Surat yang tiba menggunakan teknologi canggih di tahun modern ini saya memncoba membukanya dengan rasa sumingrah. Dengan ditemani teh manis yang tersaji didepan dan suara music akhirnya ku buka surat itu dengan rasa penasaran yang semakin dalam.


****
Ya… ternyata surat itu kini bukan lagi seperti gaib yang masih menyisakan rasa penasaran. Surat itu datang dari purzy, tentang undangan sebuah acara, dan untuk siapa?? Tentu dan pastinya untuk saya. Surat yang berisi 3 paragraf dan berisi lengkap sebuah abjad, entah mengapa surat itu menggetarkan seluruh tubuh saat saya mencoba membacanya. Padahal surat itu bukan surat yang datang dari sebuah perdukunan tp surat itu datang dari purzy yang tak lain adalah dea’ana purzy. Siapa dia??
Ya, dia adalah seorang yang dulu membuat saya melupakan semuanya, dia orang mengerti tentang org lain, orang yang sangat sempurna bagi ku, walau terkadang dia merasa malu dengan kekuranganya.

****

Singkat cerita… Setelah saya membuka dan membaca surat tersebut saya begitu menyesal dan tetunya kecewa. Mengapa??? Ya, jelas kecewa karna surat itu adalah surat kabar buruk bagi diri saya. Surat yang berisi sedikit puisi dan mengajak agar diriku datang pada acara tersebut. Surat yang membuat saya tak bisa menahan rasa kecewa ini, adalah surat undangan pernikahan dia. Surat yang memang sedikit membuat saya tenang dengan datangnya kabar dia kembali namun besar membuat saya kecewa. Entah saya harus bagaimana, mau tak mau saya harus menerimanya karna ini adalah anugrah dari tuhan dan saya yakin tuhan akan memberikan anugrah yang lebih baik dari kabar ini.

****

Detik-detik pada lingkaran jam yang menggantung di sudut ruangan itu, saya memncoba untuk membalikan keadaan ke semula. Mencoba tenang dan memikirkan apa yang harus kulakukan. Mungkin ini sudah takdir tuhan untuk saya dan dia. Saya percaya tuhan akan memberikan yang terbaik untuk umatnya yang selalu bersabar. Ku tulis secercah surat dalam kertas, ntah sampai atau tidak semoga surat ini datang di hadapan dia.

****

Dear Purzy…

4 Tahun lalu yang sangat indah saat kau masih terseyum untuk diriku, saat kau bercanda di kantin itu, saat kau menunggu di samping para siswa yang masih sibuk bekerja. Untuk kamu yang kucinta dan kusayang, sungguh berat aku menulis surat untukmu, tapi memang ini adalah sebuah keharusan karna mungkin ini akan menjadi kalimat terakhir ku untukmu sebelum dirimu resmi melengkungkan janur kuning di hadapan semua orang. 2 tahun yang lalu, kau masih sempat membuat diriku menarik nafas panjang karna masih mendengar alunan suara mu yang merdu mengguncang hati ku. Namun mengapa, kau pergi tanpa ada sekecil jejakpun terlihat oleh ku dan kini kau kembali membuat nafas ini hampir tak lagi bisa bernafas dengan datangnya kejutan darimu. Sayangku… ku terima sebuah kejutan mu itu walau jujur aku tak sanggup mendengar dan melihatnya. Dengan jelasnya waktu yang kau tuliskan dalam surat itu, artinya tak lama lagi kau akan resmi menjadi milik orang yang tentunya itu bukan diriku. Dengarlakan lah diriku.. aku yakin kau masih ingat kata-kata indah yng kau ucapkan di hadapanku waktu itu, jelas menusuk dalam telinga mu. “ KITA AKAN BAHAGIA”. Apakah ini yang dinamakan bahagia sayang??
Purzy ku yang ku kenang.. terima kasih atas cinta dan kasih sayang yang kau berikan, meski sesaat tapi itu membuat aku bahagia. Dan untukmu purzy sayang.. terima kasih atas undangan yang kau berikan. Semoga engkau bahagia dengan takdir tuhan yang semestinya. Berharap kau mendengar dan melihat surat ku ini, agar kau tau isi dalam lubuk hati ini.

Thanks to Pur27.. 

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer